Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Saya Membiasakan Sekaligus Menikmati Olahraga di Rumah Aja Bermodal Perangkat dan Aplikasi Ini

Generasi milenial sangat lekat dengan citra mager, rebahan, dan sejenisnya yang kesannya suka bermalas-malasan. Begitupun saya yang juga masuk kategori generasi milenial ini. Apalagi dengan profesi saya yang seorang full time ilustrator & blogger, yang tentunya mengakibatkan gaya hidup saya cenderung pasif, kurang punya aktivitas fisik.

Mendekati usia 30-an, saya merasa tubuh ini mulai bermekaran kemana-mana, sehingga membuat saya makin lama makin tidak nyaman, juga menjadikan saya merasa kurang bugar. Oleh karena hal tersebut, saya merasa sekarang-lah saatnya mulai membiasakan berolahraga agar kelak tidak semakin payah ketika usia saya semakin senja.

Saya pun mulai mencari-cari cara untuk berolahraga demi menjaga kebugaran dan kesehatan saya. Saya ingin melakukan olahraga yang simpel, gratis, bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Sempat berinisiatif menjalani fitness di sebuah sasana olahraga di tempat yang lumayan jauh dari rumah, saya merasa kurang sreg. Alasannya:

  1. Lokasi gym terbilang cukup jauh.
  2. Harus keluar duit setiap ingin berpeluh mencari keringat.
  3. Tidak adanya personal trainer, yang bisa membantu saya memanfaatkan peralatan olahraga yang ada di gym tersebut (soalnya peralatan olahraga banyak banget cuy, sampai bingung mau mulai darimana dulu!), sekaligus bisa membantu saya dalam mencapai target olahraga saya.
  4. Tanpa adanya kawan untuk berangkat bersama, saya tidak yakin bakal punya motivasi yang cukup untuk berangkat ke gym tersebut seorang diri.

Karena beberapa alasan tersebut, saya pun urung melanggengkan olahraga di gym. Namun selang beberapa waktu, saya dapat ide:

Bagaimana kalau berolahraga dengan modal aplikasi smartphone saja, yang tentunya lebih simpel, tak perlu keluar uang, bisa dilakukan kapanpun-dimanapun, dan tanpa adanya kawan pun tak jadi masalah?

Lalu saya pun mulai menjajal beberapa aplikasi fitness yang ada di Play Store & App Store. Ternyata saya berjodoh dengan cara olahraga seperti ini karena sudah setahun lebih saya sukses berolahraga dengan cukup ajeg.

Berikut saya bagikan tools apa saja yang saya manfaatkan dalam kegiatan olahraga saya:


PERANGKAT

1. Smartphone (Android/iPhone)

Android & iPhone
Android & iPhone
Dalam aktivitas olahraga ala saya ini, smartphone memegang peranan terpenting, core of the core! Itu karena semua perangkat dan aplikasi yang saya gunakan terpusat dan dikontrol melalui smartphone. Kadang saya menggunakan hp Android saya, meskipun akhir-akhir ini saya selalu menggunakan iPhone.

Sebenarnya bebas aja sih mau pake smartphone apapun. Android oke, iPhone juga oke. Keduanya punya banyak pilihan aplikasi olahraga di store masing-masing yang siap untuk digunakan.

2. Health & Fitness Tracker (Honor Band 5)

Honor Band 5
Honor Band 5
Barangkali kalian ada yang bertanya-tanya,
Emang apa sih pentingnya health & fitness tracker?
Kalau menurut saya, fitness tracker sebenarnya gak penting-penting amat sih. Tanpa menggunakannya, kita tetap bisa berolahraga dengan normal tanpa kurang suatu apapun. Hanya saja, jujur, setelah membeli Honor Band 5 (fitness tracker yang saya gunakan), saya jadi lebih termotivasi untuk berolahraga. Statistik aktivitas olahraga yang ditunjukkan oleh Huawei Health (aplikasi yang terhubung dengan Honor Band 5) berhasil membuat saya merasa terdorong untuk mencatatkan rekaman aktivitas olahraga setiap hari.

Dan ternyata rasa termotivasi akibat pelacakan aktivitas olahraga yang saya lakukan tersebut bukan sekedar perasaan saya saja. Fenomena seperti itu diamini oleh James Clear dalam bukunya, Atomic Habits yang sudah saya khatamkan. Menurut James, merekam suatu aktivitas akan membuat kita lebih bersemangat dan termotivasi untuk menjadikannya kebiasaan yang dilakukan secara rutin.

Sebagai pemula dalam olahraga, saya tidak ingin membeli fitness tracker yang mahal-mahal dulu. Kan sayang kalau misalnya udah beli dan tidak lama berselang ternyata kita tiba-tiba jadi merasa malas berolahraga. Jadinya, produk smartband besutan Honor inilah saya pilih untuk saya beli dan gunakan sebagai health & fitness tracker andalan: Honor Band 5.

Ada banyak alasan mengapa gawai ini yang saya pilih, di antaranya yaitu:
  • Harga terjangkau
Dibandingkan dengan smartwatch, tentunya smartband punya range harga yang lebih terjangkau. Cukup dengan budget sekitar 300 ribuan rupiah, kita sudah bisa meminang gelang pintar yang berkualitas.
  • Desain yang mungil dan cukup stylish
Device yang ramping dan ringan tentunya lebih nyaman digunakan untuk bergerak bebas dibanding device yang bongsor. Fitness tracker yang ber-body mungil dan harganya terjangkau juga tak akan membuat kita waswas terbentur ketika sedang melakukan gerakan-gerakan cepat nan ekstrim dalam olahraga. Coba aja bayangin alangkah nelangsanya jika kita menggunakan Apple Watch,, lalu layarnya terbentur dan pecah ketika kita sedang mules olahraga! Dijamin bakalan pening tujuh keliling, kecuali kalian sultan, ehe...
  • Baterai tahan lama
Apakah kalian tahu Apple Watch, smartwatch buatan Apple itu punya baterai yang hanya bisa bertahan sekitar seharian? Bukankah mengesalkan jika kita harus mengisi daya fitness tracker kita setiap hari? Tiap hari udah ngecas Android, iPhone, iPad, eh ini smartwatch / smartband minta diisi dayanya tiap hari juga...!

Honor Band 5 berdasarkan penggunaan saya selama beberapa bulan ini bisa bertahan kurang lebih sekitar 5-7 harian sampai saya harus mengisi ulang dayanya. Pengisian dayanya pun tidak butuh waktu yang terlalu lama. Cukup dicolokin sekitar sejam aja udah full kok baterainya.
  • Fitur bisa terbilang sangat lengkap
Untuk sekedar memenuhi kebutuhan memantau kesehatan dan olahraga, smartband seperti Honor Band 5 ini sebenarnya sudah sangat mumpuni. Tingkat akurasinya cukup oke, pilihan pemantau mode olahraganya juga banyak. Ada monitor denyut jantung, penghitung langkah, SpO2, monitor tidur, dan beberapa fitur berguna lainnya.

Setelah penggunaan selama beberapa bulan, saya baru menyadari kalau Honor Band 5 ini punya kekurangan minor terkait akurasi pemantau denyut jantungnya.

Ketika jantung saya beraktivitas dengan intensitas tinggi, si Honor Band 5 tak mampu untuk mengejarnya. Seringkali ketika saya berolahraga yang sampai membuat saya tersengal-sengal kehabisan napas, eh si Honor Band 5 malah tidak menghargai jerih payah saya karena heart rate sensor-nya cuma menunjukkan angka di bawah 100bpm. Padahal dengan intensitas yang cukup tinggi, saya memperkirakan setidaknya angkanya minimal ada di 150bpm.

Oleh karena itu, saya jadi berkesimpulan kalau sensornya HB5 hanya bisa mentok di sekitar 170bpm dan gak bakal bisa sampai di angka 180bpm, meskipun saya menggenjot aktivitas olahraga saya sekeras apapun.

3. True Wireless Stereo (Apple Airpods Gen 2)

Apple Airpods Gen 2
Airpods 2
Dulu saya pernah berpikir dengan penuh sinisme,
Kenapa ya kok ada orang yang mau keluarin duit ratusan ribu, bahkan jutaan hanya untuk sekedar membeli peranti dengar (headset)?
Padahal fungsi headset kan cuma buat penyambung suara dari audio source ke telinga kita?
Bukankah headset yang harganya di bawah ratusan ribu sudah bisa menjalankan fungsi tersebut dengan baik?
Seiring waktu berjalan, saya menyadari kekeliruan pemikiran seperti itu.

Pemikiran saya berubah semenjak saya membeli headset IEM (In Ear Monitor) Knowledge Zenith S3, yang harganya ratusan ribu dan berhasil membuat saya terperangah karena sanggup memberi pengalaman menikmati audio dengan kualitas yang membuat gendang telinga saya mengalami orgasme.

KZ ZS3
Knowledge Zenith ZS3
KZ ZS3 yang saya miliki tersebut bertipe detachable, yang artinya bisa dikoneksikan dengan kabel biasa yang menggunakan koneksi jack 3.5 mm, juga bisa menggunakan kabel bluetooth yang bisa dibeli secara terpisah.

Mengetahui headset yang saya gunakan punya potensi untuk digunakan secara wireless, saya pun membeli kabel bluetoothnya agar bisa lebih fleksibel lagi dalam menggunakan headset tersebut.

Nah, bermula dari pengalaman penggunaan headset dengan koneksi wireless tersebut, saya pun jadi tergoda untuk meminang headset TWS (True Wireless Stereo) produksi Apple, yakni Apple Airpods generasi ke-2.

Dengan harga yang tidak bisa dibilang murah untuk sebuah peranti dengar, Airpods 2 mampu memberi saya pengalaman mendengarkan audio yang lebih istimewa lagi. Tak perlu repot-repot mengurai kabel ketika ingin menggunakan headset, tak perlu berhati-hati karena takut kabelnya putus, dan berbagai keriweuhan lainnya yang disebabkan oleh kabel.

Dari pengalaman itulah mindset saya berubah total. Saya jadi lebih memahami alasan orang rela menggelontorkan dana yang tidak sedikit hanya untuk membeli sebuah alat dengar. Harga membawa kualitas, memberi pengalaman yang lebih baik.

Back to topic!
Peran apakah yang diemban oleh Airpods 2 dalam komposisi alat penyokong aktivitas olahraga saya?
Berkat teknologi tanpa kabelnya Airpods 2, saya jadi bisa menggunakannya ketika berolahraga. Saya menggunakannya untuk mendengarkan instruksi-instruksi dari aplikasi Adidas Training sekaligus mendengarkan musik, sehingga olahraga menjadi lebih bersemangat.

APLIKASI

1. Aplikasi Pemandu Olahraga

Ada banyak aplikasi olahraga di Play Store dan App Store yang bisa menggantikan peran seorang Personal Trainer (PT). Jika personal trainer di sasana berperan dalam mengatur pola dan menu olahraga kita, maka aplikasi training juga bisa menjalankan peran tersebut.

Bukankah melakukan olahraga yang sesuai dengan petunjuk dari para pakar di bidang olahraga itu lebih baik dibanding jika kita berolahraga secara asal-asalan tanpa landasan dan prosedur yang jelas?

Saya sendiri sudah pernah menggunakan beberapa aplikasi olahraga, di antaranya yaitu aplikasi Latihan Rumahan, Nike Training Club (NTC), dan saat ini Adidas Training yang saya gunakan. Berikut ulasan singkat dari beberapa aplikasi tersebut:
  • Latihan Rumahan
aplikasi olahraga latihan rumahan
Aplikasi Latihan Rumahan
Saya menggunakan aplikasi ini sebagai pemandu olahraga cukup lama, setengah tahunan lebih, mungkin.  Aplikasi ini punya banyak koleksi panduan olahraga yang bisa dilakukan tanpa alat. Ada yang gratis, ada pula yang berbayar.
Untuk yang berbayar, kita harus berlangganan agar bisa mengakses menu latihannya. Tapi sebenarnya bisa juga kok membuka menu latihan premium tanpa harus berlangganan. Caranya yaitu dengan menonton iklan terlebih dulu.

Saya pribadi memilih untuk menggunakan menu latihan yang gratisan saja, karena menurut saya itu sudah cukup.
  • Nike Training Club (NTC)
aplikasi olahraga NTC
Aplikasi Nike Training Club
Merasa bosan dengan aplikasi Latihan Rumahan, saya ingin mencoba aplikasi lainnya.  Lalu pilihan jatuh ke NTC ini karena nama besar Nike, juga karena aplikasi ini cukup populer di Play Store & App Store. Sama halnya dengan aplikasi Latihan Rumahan, NTC juga menawarkan menu latihan gratis dan berbayar.

Saya menggunakan aplikasi ini hanya sebentar karena ada beberapa latihan yang suara instruksinya tidak tersedia. Kekurangan yang mungkin sepele, namun bagi saya sangat fatal karena membuat saya jadi kesulitan untuk memulai dan mengakhiri pose latihan yang hitungannya berdasarkan durasi waktu tertentu.
  • Adidas Training by Runtastic
aplikasi olahraga adidas training by runtastic
Aplikasi Adidas Training
Dari namanya kita tentu tahu kalau aplikasi ini adalah aplikasi milik Adidas, vendor produk olahraga terbesar kedua di dunia setelah Nike.

Sementara ini, saya merasa nyaman dan puas dengan menu latihan yang ada di aplikasi ini.

Ada beragam program latihan (training plan) yang punya target spesifik seperti program untuk mendapatkan perut six-pack, menjadi lebih fit & kuat, menjadi lebih aktif & berenergi, serta beragam program lainnya. Ada juga workout creator, menu latihan yang bisa kita sesuaikan lama durasi waktu latihannya dan bagian tubuh mana yang menjadi fokus latihannya.

Selain latihan gratisan, juga ada opsi latihan premium yang bisa diakses dengan cara berlangganan seperti halnya dua aplikasi olahraga sebelumnya.

2. Music Player (Spotify/Youtube Music/Apple Music)

aplikasi streaming musik spotify
Aplikasi Spotify
Berolahraga sembari mendengarkan musik-musik beraliran elektronik atau biasa dikenal dengan EDM (Electronic Dance Music) terbukti membuat olahraga saya jadi lebih bersemangat.

Untuk aplikasi pemutar musik, saya terkadang menggunakan Spotify, Apple Music, ataupun Youtube Music (include di paket berlangganan Youtube Premium).
Kenapa saya memilih untuk berlangganan aplikasi-aplikasi music streaming tersebut, alih-alih mengunduh lagu melalui situs-situs download lagu yang tersebar di penjuru internet (yang tentunya tidak legal)?
Sudah lama semenjak terakhir kali saya tak lagi melakukan aktivitas download lagu ilegal di internet. Saya berhenti melakukannya karena beberapa alasan berikut:
  • Saya ingin lebih menghargai para musisi dengan cara menikmati karya-karya mereka melalui platform yang legal.
  • Pilihan lagu serta playlist yang sangat beragam.
  • Menghemat penyimpanan (storage) gadget-gadget yang saya miliki.
  • Saya bisa mengakses lagu-lagunya di Android, iPhone, iPad, dan Android TV tanpa hambatan.
  • Dimudahkan dalam melakukan pembayaran langganannya berkat Jenius.

3. Huawei Health

aplikasi kesehatan huawei
Aplikasi Huawei Health
Huawei Health merupakan aplikasi pelacak kesehatan & aktivitas olahraga untuk perangkat-perangkat Huawei dan Honor. Jadi, untuk membaca data-data yang didapat oleh Honor Band 5, wajib menginstall aplikasi Huawei Health di smartphone.

PENUTUP

Yah seperti itulah kira-kira cara saya dalam membiasakan dan menikmati olahraga yang saya praktikkan sampai saat ini. Tentu saja cara seperti ini belum tentu cocok digunakan semua orang, karena tiap orang punya kepribadian dan preferensi yang berbeda-beda soal olahraga.

Saya punya prinsip dalam berolahraga:
  • Yang saya kejar bukanlah target dari aktivitas olahraga, mengurangi berat badan atau memiliki perut six pack misalnya. Bukan, bukan itu yang ingin saya capai. Tujuan utama saya dalam berolahraga adalah menjadi orang yang punya kebiasaan berolahraga dan bergaya hidup sehat. Karena percuma saja kalau saya olahraga agar memiliki perut layaknya roti sobek, jika setelah tujuan tersebut tercapai, lalu saya tidak pernah berolahraga lagi. Bukankah sang perut bakalan membuncit kembali?
  • Tak masalah berolahraga ringan selama 20-30 menit, asalkan dilakukan secara konsisten. Karena tujuan utama saya ya cuma agar punya kebiasaan olahraga itu tadi.
Thank you guys for stopping by and stay healthy! 💪
NOOV
NOOV Ilustrator pengguna jutsu choju giga & Blogger pengguna otak kiri

Post a Comment for "Cara Saya Membiasakan Sekaligus Menikmati Olahraga di Rumah Aja Bermodal Perangkat dan Aplikasi Ini"

Berlangganan via Email